PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pertambahan penduduk menyebabkan bahan pangan turut meningkat pula, termasuk di dalamnya permintaan terhadap sayuran sebagai sumber bahan pangan nabati. Peningkatan permintaan bahan pangan nabati tersebut akan mendorong pengembangan usaha pertanian yang lebih intensif. Usaha pertanian yang memanfaatkan sumber daya lokal, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia dalam jumlah besar akan mampu memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi kelangsungan perekonomian bangsa sehingga sektor pertanian menjadi basis untuk memperkuat perekonomian bangsa sekaligus sebagai salah satu upaya untuk mensejahterakan masyarakat petani Indonesia yang merupakan mayoritas dari jumlah penduduk dan sebagian besar merupakan golongan ekonomi menengah ke bawah.
Kegiatan pembangunan pertanian yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan, diarahkan pada pertanian yang maju, rasional, efisien, dan tangguh. Pertanian tersebut didirikan dengan penggunaan teknologi yang maju dan berwawasan lingkungan, sistem pengelolaan yang berorientasi bisnis dan berkelanjutan, penggunaan faktor produksi yang padat modal, berwawasan lingkungan yang bersih dan terkendali, serta didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas.
Pengembangan usaha dalam sektor pertanian hortikultura diantaranya adalah budidaya tanaman paprika dalam screenhouse.
Budidaya tanaman sayuran dalam screenhouse, memiliki beberapa kelebihan seperti pengaruh perubahan cuaca yang cukup ekstrim dapat diminimalisir, kondisi lahan (media tanam) yang dapat diatur sedemikian rupa, penyerapan nutrisi (pupuk) yang optimal, system irigasi (pengairan) yang teratur dan efisien mengunakan system Drip irigation atau irigasi tetes, yaitu sebuah sistem yang menggunakan tabung dan drippers untuk mengantarkan air pada tekanan rendah langsung ke akar tanaman.
Hal ini untuk mencegah tanaman tergenang air, pasokan air irigasi tetes akan mengalir setetes demi setetes dengan kecepatan sangat pelan, sehingga jumlah air untuk masing-masing tanaman dapat dikontrol dengan tepat untuk pertumbuhan maksimum. Sistem irigasi tetes menghilangkan sebagian besar kehilangan air akibat penguapan, limpasan, overspray, erosi dan angin. Sistem irigasi tetes memiliki efisiensi hingga 95% dibandingkan dengan sistem manual yang memiliki efisiensi 50 hingga 65% untuk biaya overhead penyiram. Dengan sistem ini akan menghemat penggunaan air untuk menyiram tanaman, banyak sekali menghemat waktu dan uang karena tidak perlu menyiram air berlebihan setiap waktu yang hal ini akan sangat memboroskan pasokan air dan membuat tanaman rusak. Sehingga kualitas dan kontinuitas produksi akan terjaga dengan baik, serta pengendalian hama penyakit dapat ditekan seminimal mungkin. Selain itu produktifitas tanaman dapat lebih tinggi dibandingkan pada lahan luar. Budidaya tanaman sayuran (hortikultura) dalam screenhouse merupakan kegiatan usaha padat modal dan dibutuhkan keahlian (skill) yang cukup memadai, sehingga sulit dilakukan/dijalankan oleh petani biasa (tradisional), hal ini berdampak pada stabilitas harga yang relative stabil dan lebih menguntungkan. (Ndroe, 2010)
Cabai paprika (capsicum annum) merupakan tanaman hortikultura yang dimanfaatkan untuk keperluan pangan. Selain itu cabai paprika juga digunakan dalam industri farmasi untuk membuat ramuan obat-obatan, kosmetik, pewarna bahan makanan. Cabai paprika merupakan tanaman komoditas sayuran yang penting, yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masayarakat sehari-hari. Pemanfaatannya sebagai bahan baku industri menjadikan cabai paprika sebagai komoditas yang bernilai ekonomis tinggi dan mempunyai peluang bisnis yang cerah. Selain digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan masakan luar negeri, berbagai kelompok industri pengolahan makanan yang menggunakan cabai paprika sebagai bahan baku utama/bahan campuran antara lain : industri mie, bihun, kecap, kerupuk, emping, karak,dan sebagainya . Oleh sebab itu penulis ingin mengetahui analisis biaya produksi budidaya agribisnis tanaman paprika sebagai produk budidaya sayuran ekslusif dalam screenhouse yang mampu bersaing baik dari segi kualitas, kuantitas, kontinuitas, harga maupun pelayanan berkualitas export.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Deskripsi cabai paprika (Capsicum annum )
Cabai paprika (capsicum annum var. Grossum) termasuk family terung-terungan (solanaceae). Tanaman ini termasuk golongan tanaman semusim atau tanaman berumur pendek. Tanaman cabai paprika tumbuh sebagai perdu atau semak, dengan ketinggian mencapai 4 meter.
Klasifikasi tanaman cabai paprika dalam ilmu tumbuhan, sistematika (taksonomi) tanaman cabai paprika adalah sebagai berikut :
Divisi : Spermathophyta (Tanaman berbiji)
Subdivisi : Angiospermae (Biji berada didalam buah)
Kelas : Dicotyledonae (Biji berkeping dua atau biji belah)
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae (Terung-terungan)
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum Annum
Varietas : Grossum
( Bambang cahyono, 2007 )
Agar tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi, tanaman cabai paprika memerlukan temperature 21o C - 27 o C pada siang hari dan 13o C - 16 o C pada malam hari. Dan tanaman paprika memerlukan kelembaban udara sekitar 80%. Curah hujan 250 mm/bulan ketinggian tempat 700 m dpl – 1500 m dpl. Dan cahaya matahari, pada masa awal fase pertumbuhan, tanaman cabai paprika memerlukan intensitas cahaya matahari yang rendah. Penyinaran secara langsung dengan intensitas cahaya yang tinggi dapat mematikan tanaman (bibit). Oleh karena itu, pada masa awal pertumbuhan, tanaman cabai harus diberi naungan.
(Schoch (1972) yang dikutip iman harjono (1994). (Hal 13&32)
Cabai paprika mengandung zat oleoresin yang dapat diperoleh dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut organik, misalnya alkohol dan heksan. Di industri pangan, oleoresin paprika banyak digunakan sebagai pewarna bahan makanan. Pewarna oleoresin memiliki ketahanan panas yang lebih baik dibandingkan dengan pewarna makanan lainnya dan dapat digunakan pada kisaran pH yang luas yakni antara 1-9. Selain itu oleoresin paprika juga lebih ekonomis, memiliki flavor yang kuat dan dapat dikontrol serta lebih bersih. ( Bambang cahyono, 2007)
Pada umumnya, cabai paprika mengandung 0,1 % - 1% rasa pedas, yang disebabkan zat capsaicin dan dihidrocapsaicin yang terkandung dalam buahnya.
Tabel 1: Kandungan gizi (komposisi kimia) buah cabai paprika segar dalam setiap 100 g bahan yang dapat dimakan
No | Jenis zat | Kadar |
1 | Kalori | -- |
2 | Protein | 0.90 g |
3 | Lemak | 0,30 g |
4 | Karbohidrat | 4,40 g |
5 | Kalsium | 7,00 mg |
6 | Fosfor | 22,00 mg |
7 | Zat besi | 0,40 mg |
8 | Vitamin A | 22,00 IU |
9 | Vitamin B-1 | 540,00 mg |
10 | Vitamin B-2 | 0,02 mg |
11 | Vitamin C | 160,00 mg |
12 | Niasin | 0,40 mg |
Sumber : Tabel Of Representative Value Of Food Commonly Used In Tropical Countries (1982) dalam Imam Harjono, 1994.
2.2. Deskripsi kontruksi screenhouse/ greenhouse
Rumah kaca (atau rumah hijau) adalah sebuah bangunan di mana tanaman dibudidayakan. Sebuah rumah kaca terbuat dari gelas atau plastik yang menjadi panas karena radiasi elektromagnetik yang datang dari matahari memanaskan tumbuhan, tanah, dan lainnya di dalam bangunan. (Wikipedia, 2010)
Greenhouse dalam istilah disini adalah suatu bangunan atau rumah yang dirancang sedemikian rupa untuk menaungi tanaman dengan menggunakan atap kaca atau plastik transparan agar dapat meneruskan cahaya matahari yang optimal, banyak juga yang menyebut screenhouse. Greenhouse biasanya dibangun pada ketinggian 500-1500 M dpl, walaupun pada ketinggian dibawah 500 M dpl masih bisa, tetapi biasanya kurang optimal produksinya, misalnya dalam penyiraman/pemberian nutrisi akan lebih banyak volumenya dibandingkan dengan dataran tinggi, ini disebabkan intensitas penyinaran dan suhu didataran rendah lebih tinggi dibandingkan dengan dataran tinggi, sehingga evapotranspirasipun tinggi. Greenhouse yang dibangun pada ketinggian dibawah 500 M dpl biasanya untuk Nursery/pembibitan, penelitian, atau untuk perikanan dan sejenisnya.
Bahkan di Negara lain, greenhouse sudah banyak di pakai untuk atap pengeringan industri pertanian. Jenis plastik yang biasa digunakan sebagai atap greenhouse yang kuat terhadap faktor iklim antara lain plastik UV, plastik film, polyethylene dan fiberglass. Plastik UV adalah plastik yang dilapisi bahan kimia tertentu, sehingga dapat menahan sinar ultraviolet yang berlebihan tanpa merusak tanaman. Untuk kebutuhan jenis plastik yang umum diperdagangkan di Indonesia adalah jenis plastik UV 6%, 8%, dan 12%, dengan ketebalan sekitar 150 -200 micron. (Edi sugiyanto, 2009)
Bahkan di Negara lain, greenhouse sudah banyak di pakai untuk atap pengeringan industri pertanian. Jenis plastik yang biasa digunakan sebagai atap greenhouse yang kuat terhadap faktor iklim antara lain plastik UV, plastik film, polyethylene dan fiberglass. Plastik UV adalah plastik yang dilapisi bahan kimia tertentu, sehingga dapat menahan sinar ultraviolet yang berlebihan tanpa merusak tanaman. Untuk kebutuhan jenis plastik yang umum diperdagangkan di Indonesia adalah jenis plastik UV 6%, 8%, dan 12%, dengan ketebalan sekitar 150 -200 micron. (Edi sugiyanto, 2009)
Plastik UV yang tersedia dipasaran bermacam-macam dan di kelompokan berdasarkan atap greenhouse yang menggunakan plastik UV, terdapat Angka-angka persen UV seperti 6%, 12% dan 14% itu berarti banyaknya kandungan bahan kima yang terkandung, semakin banyak bahan kima ada, semakin besar pula kemampuan plastik UV untuk menahan sinar. Disekeliling greenhouse sebaiknya dipasang dinding pengaman. dinding pengaman ini berfungsi melindungi tanaman dari berbagai gangguan yang datang dari luar, yang sifatnya dapat merugikan pertumbuhan tanaman. Contohnya mencegah masuknya serangga. Dinding pengaman ini yang biasa dipakai adalah sejenis screen, polynet, dsb. (Edi sugiyanto, 2009)
Bentuk Greenhouse selalu mengikuti struktur kerangka yang dibuat. Kekuatan atau kekokohan tersebut selain ditentukan dari pemilihan bahan material yang digunakan, juga tergantung dari model struktur kerangka yang dibuat. Bentuk greenhouse yang umumnya digunakan di Indonesia antaralain, piggy back system (joglo), dan tunnelhouse. Bentuk piggy back system adalah bentuk seperti rumah biasa dengan tambahan atap kecil di bagian atasnya. Tambahan tersebut berfungsi sebagai ventilator, akibatnya hawa panas yang ada di dalam greenhouse akan tertekan keluar melalui lubang di atas. Tunnelhouse adalah greenhouse yang terbentuk seperti terowongan, bagian atap melengung setengah lingakaran. Bentuk dan ukuran greenhouse bisa mempengaruhi temperatur dan kelembaban di dalamnya, dengan demikian akan berpengaruh juga terhadap pertumbuhan tanaman. Misalnya, tinggi greenhouse akan berperan dalam menciptakan perbedaan suhu di luar dan di dalam greenhouse, sedangkan lebar dan panjangnya berperan terhadap kekuatan greenhouse. Oleh karena itu, supaya tidak terjadi perbedaan yang ekstrim antara suhu di dalam dan di luar greenhouse, maka greenhouse di buat sedemikian rupa sesuai dengan keadaan setempat, sehingga sirkulasi udara yang masuk dan keluar dapat berjalan dengan baik. Bentuk dan ukuran greenhouse biasanya harus mempertimbangkan curah hujan, kecepatan angin dan jenis tanaman yang akan di tanam.
Syarat ketinggian, suhu, RH, sinar matahari pada dasarnya sayuran & bunga dengan system hidroponik dapat tumbuh pada semua dataran di Indonesia, tetapi karena hidroponik komersial dengan menggunakan Greenhouse, maka faktor iklim yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah, suhu, intensitas cahaya dan kelembaban (RH). Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah 5-7 jam per hari, tetapi diusahakan intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam greenhouse adalah 60-70 %.
Tabel 2 : Syarat iklim optimal sayuran dengan sistem hidroponik :
Data : Edi sugiyanto, 2008
Untuk type iklim tersebut tersebar dari daerah Jawa Barat : Cipanas, Megamendung sekitar, Ciapus, Parung, Goalpara, Cugenang, Salabintana, Lembang, Pengalengan, Garut. Jawa Tengah :Ungaran, Wonosobo, Guci-Slawi. Jawa Timur: Nongkojajar, Batu-Malang. Bali, Lombok, Berastagi-Medan, Malakaji-Sulsel, Tomohon. (Edi Sugiyanto, 2008).
2.3. Sistem pengairan screenhouse/ greenhouse
Selain itu keberlangsungan hidup dan produk yang dihasilkan tanaman hidroponik tidak terlepas dari kerja sistem irigasi itu sendiri, karena irigasi bukan hanya mensupply air untuk tanaman, akan tetapi air itu sendiri berperan membawa nutrisi/pupuk yang dibutuhkan tanaman, sebab tanaman yang menggunakan sistem hidroponik cenderung tidak dapat mencari unsur hara secara alami ke tanah, akan tetapi menggunakan media yang telah disesuaikan sehingga perlu adanya pasokan nutrisi yang selalu diberikan melalui irigasi tersebut.
Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertaniannya. Dalam dunia modern saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mangalirkan air tersebut ke lahan pertanian. Namun demikian irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air dengan menggunakan wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu-persatu. Untuk irigasi dengan model seperti ini di Indonesia biasa disebut menyiram. Sebagaimana telah diungkapkan, dalam dunia modern ini sudah banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan irigasi dan ini sudah berlangsung sejak Mesir Kuno. Di lahan kering, air sangat langka dan pemanfaatannya harus efisien. Jumlah air irigasi yang diberikan ditetapkan berdasarkan kebutuhan tanaman, kemampuan tanah memegang air, serta sarana irigasi yang tersedia.
Ada beberapa sistem irigasi untuk tanah kering, yaitu:
- (1) irigasi tetes (drip irrigation),
- (2) irigasi curah (sprinkler irrigation),
- (3) irigasi saluran terbuka (open ditch irrigation), dan
- (4) irigasi bawah permukaan (subsurface irrigation).
(Wikipedia, Agustus 2010)
Sistem irigasi tetes adalah sebuah sistem yang menggunakan tabung dan drippers untuk mengantarkan air pada tekanan rendah langsung ke akar tanaman. Hal ini untuk mencegah tanaman tergenang air, pasokan air irigasi tetes akan mengalir setetes demi setetes dengan kecepatan sangat pelan dan mempertahankan tanah udara yang diperlukan oleh akar tanaman untuk pertumbuhan yang sehat. Jumlah air untuk masing-masing tanaman dapat dikontrol dengan tepat untuk pertumbuhan maksimum. Sistem irigasi tetes menghilangkan sebagian besar kehilangan air akibat penguapan, limpasan, overspray, erosi dan angin.sistem irigasi tetes memiliki efisiensi hingga 95% dibandingkan dengan sistem manual yang memiliki efesiensi 50 hingga 65% untuk biaya overhead penyiram, dengan sistem ini kita akan menghemat penggunaan air untuk menyiram tanaman. Salah satu rahasia membuat tanaman subur dan sehat adalah dengan cara mengalirkan air yang sering sampai ke dalam akar.
Sistem irigasi tetes sangat bagus digunakan untuk tanaman bunga, sayuran, pohon, semak dan tanaman rumah kaca, karena sistemnya yang terus menerus mengalirkan air tetes demi tetes. Sangat mudah untuk mengotomatisasi irigasi tetes dengan menambahkan digital timer. Digital timers can be set to turn on automatically at any time of day and for as long as necessary. Digital timer dapat diatur untuk mengaktifkan secara otomatis pada setiap saat selama diperlukan. Sistem irigasi tetes bekerja dengan tekanan rendah, volume penyemprot rendah yang ideal untuk menjaga tanaman basah. Penggunaannya sangat mudah, dengan dilengkapi baterai untuk mengotomatiskan irigasi tetes yang dioperasikan dengan timer sehingga menghemat waktu. (Ndroe, Jan 2010)
5.2. Pembahasan
Cabai paprika (capsicum annum) merupakan tanaman hortikultura yang dimanfaatkan untuk keperluan pangan. Cabai paprika merupakan tanaman komoditas sayuran yang penting, yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masayarakat sehari-hari. Pemanfaatannya sebagai bahan baku industri menjadikan cabai paprika sebagai komoditas yang bernilai ekonomis tinggi dan mempunyai peluang bisnis yang cerah. Selain digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan masakan luar negeri, berbagai kelompok industri pengolahan makanan yang menggunakan cabai paprika sebagai bahan baku utama/bahan campuran.
Secara umum tanaman ini memerlukan temperatur 21o C - 27 o C pada siang hari dan 13o C - 16 o C pada malam hari. Dan tanaman paprika memerlukan kelembaban udara sekitar 60%-80%. Curah hujan 250 mm/bulan ketinggian tempat 700 mdpl – 1500 m dpl. Penyinaran 8-12 jam/ hari (long day plant). Dalam budidaya paprika, diperlukan keterampilan untuk menerapkan pengetahuan dan teknik budidaya yang sesuai dengan daya duknung agroekosistem, dengan tinjauan berbagai aspek agronomis dan agroekonomi. Keterampilan yang kurang dan pengetahuan yang tidak memadai tentang cabai aprika yang dibudidayakan dapat menyebabkan kegagalan dan kerugian yang besar. Selain keterampilan dan pengetahuan, dalam membudidayakan cabai paprika sangat dibutuhkan juga modal usaha yang cukup memadai. (Bambang, 2007)
Berbagai aspek agronomi yang harus diperhatikan dalam membudidayakan cabai paprika dengan sistem hidroponik dalam memulai membuka peluang usaha disektor ini antara lain : Pemilihan lokasi dan pembangunan screenhouse, pembibitan/penyemaian benih, penanaman, penyiraman, pemeliharaan, pemberian nutrisi, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pemanenan, pasca panen.
Dalam usaha budidaya paprika hidroponik tidak terlepas dari tiga modal utama yang harus terpenuhi yaitu :
- Pemilihan lokasi
- Pembangunan screen/green house
- Sistem instalasi irigasi yang digunakan
Hal diatas menjadi dasar dalam budidaya paprika, karena tiga aspek diatas merupakan modal penting yang harus terpenuhi agar tanaman tersebut tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi. Sebab dalam usaha budidaya paprika pemilihan lokasi, pembangunan screenhouse dan instalasi irigasi merupakan modal yang cukup besar pengeluarannya akan tetapi hanya satu kali pengeluaran dan dapat digunakan secara kontinuitas. Khususnya pembangunan screenhouse yang akan mempengaruhi terhadap syarat pertumbuhan tanaman paprika dari mulai permukaan tanah, sumber air, ketinggian tempat, curah hujan, suhu/ temperature, kelembaban dan penyinaran.
5.2.1. Sewa Lahan
- Per 1000 m2 periode 5 tahun musim tanam Rp. 4.750.000
5.2.2. Pembangunan Screenhouse 1000 m2
5.2.2.1. Persiapan Bahan dan Rancangan Kontruksi Bangunan
- Analisa harga Kebutuhan bahan kontruksi bangunan screenhouse
Tabel 5 : Daftar kebutuhan kontruksi
No | Bahan | Satuan | Banyak | Harga | Jumlah |
1 | Bambu all grade | Batang | 1650 | 5000 | 8.250.000 |
2 | Plastik UV | Kg | 250 | 32000 | 8.000.000 |
3 | Plastik dinding (8 mm) | Kg | 50 | 22000 | 1.100.000 |
4 | Polinet | Rol | 3 | 3500 | 525000 |
5 | Mulsa | Rol | 2 | 420000 | 840000 |
6 | Paku all grade | Kg | 40 | 9000 | 360000 |
7 | Tali kain | Rol | 6 | 12000 | 72000 |
8 | Kawat bentang | Kg | 35 | 19000 | 665000 |
9 | Tambang kecil | Rol | 4 | 85000 | 340000 |
10 | Karet cemped | Ikat | 5 | 22000 | 110000 |
11 | Upah Tenaga Kerja | HOK | 30 | 40000 | 1.200.000 |
Jumlah Total | 21.462.000 | ||||
Keterangan :
Masa Ekonomis Screen House 5 Tahun ( 5 Periode )
Nilai Depresiasi Bangunan Screen Setiap Periode :
Rp. 21.462.000 : 5 (Periode) = Rp. 4.292.400
- Kontrusi kerangka bangunan dan tipe screenhouse
Gambar 1 : Tiang Penyanggah tampak depan
Gambar 2 : Tiang utama tampak dalam
Gambar 3 : Tampak atas atau dua atap
5.2.2.2. Prinsip Kerja Kontruksi Bangunan
Greenhouse dalam istilah disini adalah suatu bangunan atau rumah yang dirancang sedemikian rupa untuk menaungi tanaman dengan menggunakan atap kaca atau plastik transparan agar dapat meneruskan cahaya matahari yang optimal, banyak yang menebut juga screenhouse. (Edi Sugiyanto, 2008)
Bentuk dan design kontruksi greenhouse atau screenhouse yang digunakan adalah bentuk piggy back system atau disebut juga sistem monitor yang memiliki atap dua tingkat. Bentuknya seperti rumah biasa dengan tambahan atap kecil di bagian atasnya. Tambahan atap tersebut berfungsi sebagai ventilator atau sirkulasi udara, akibatnya hawa panas yang ada di dalam greenhouse akan tertekan keluar melalui lubang di atas, sehingga sirkulasi udara yang masuk dan keluar dapat berjalan dengan baik. Berbeda dengan penggunaan screenhouse berbentuk Tunnelhouse yaitu greenhouse yang terbentuk seperti terowongan, bagian atapnya melengung setengah lingkaran, kecil sekali sirkulasi untuk menekan temperatur berlebihan didalam screenhouse tersebut.
Model piggy back system atau monitor (dua atap) |
Model Tunnelhouse system |
Model satu atap |
Gambar 4 : model greenhouse
Karena bentuk dan ukuran screenhouse bisa mempengaruhi temperatur dan kelembaban di dalamnya, dengan demikian akan berpengaruh juga terhadap pertumbuhan tanaman dan mesti diperhatikan betul-betul akan pengaruh yang dapat ditimbulkan dari kontruksi bangunannya.
Pengunaan model screenhouse seperti, tinggi screenhouse akan berperan dalam menciptakan perbedaan suhu di luar dan di dalam screenhouse, sedangkan lebar dan panjangnya berperan terhadap kekuatan screenhouse. Oleh sebab itu, supaya tidak terjadi perbedaan yang ekstrim antara suhu di dalam dan di luar screenhouse, maka screenhouse di buat sedemikian rupa sesuai dengan keadaan iklim setempat, sehingga bentuk dan ukuran screenhouse biasanya harus mempertimbangkan curah hujan, kecepatan angin dan jenis tanaman yang akan di budidayakan.
5.2.3. Pemasangan Instalasi Drip Irrigation
5.2.3.1. Persiapan bahan dan design sistem Instalasi Drip Irrigation
- Analisa Harga Kebutuhan Bahan Instalasi Drip Irrigation
Tabel 6 : Daftar kebutuhan irigasi
No | Bahan | Satuan | Banyak | Harga | Jumlah |
1 | Toren | Buah | 1 | 1.200.000 | 1.200.000 |
2 | Drum | Buah | 1 | 150000 | 150000 |
3 | Pe 13 mm | m | 650 | 3500 | 2275000 |
4 | Pe 5 mm | m | 650 | 850 | 552500 |
5 | Take off, grommet, end plugh | Set | 30 | 15000 | 450000 |
6 | Regulating stick | Buah | 1300 | 1500 | 1.950.000 |
7 | Nepel | Buah | 1300 | 350 | 455000 |
8 | Stop kran | Buah | 5 | 22000 | 110000 |
9 | Mesin jet pomp | Unit | 1 | 800000 | 800000 |
10 | Pipa all grade (1/2”,1/4”,1”,2”) | Length | 15 | 20000 | 300000 |
11 | Skrin filter | Buah | 1 | 275000 | 275000 |
12 | Biaya pasang | HOK | 7 | 40000 | 2.800.000 |
Jumlah Total | 11.317.500 | ||||
- Design/ model sistem irigasi
Sumber air |
Bak air |
Toren |
Mesin pompa |
Filter |
Pe 13 |
Pe 5 |
Gromet |
Regulating stick |
Nepel |
End plugh |
Take off |
Pipa |
Stop kran |
Polibag sleep |
Polibag single |
Gambar 5 : Alur sistem kerja irigasi
Sistem instalasi drip irrigation/ irigasi tetes dengan dua media yang digunakan yaitu media menggunakan polibag single biasanya digunaan untuk doble row dan media yang menggunakan polibag sleep lebih mudah dalam aklimatisasi tanaman dari polibag semai ke screenhouse
5.2.3.2. Sistem Kerja Instalasi Drip Irrigation
Prinsip kerja dari Drip Irrigation atau irigasi tetes ini adalah sebuah sistem yang menggunakan tabung/ toren dan drippers untuk mengantarkan air dan nutrisi tanaman melalui pipa pada tekanan rendah langsung ke akar tanaman. Hal ini untuk mencegah tanaman tergenang air, pasokan air irigasi tetes akan mengalir setetes demi setetes langsng ke pusat akar dengan kecepatan sangat pelan dan mempertahankan tanah dan udara yang diperlukan oleh akar tanaman untuk pertumbuhan yang sehat. Jumlah debit air atau nutrisi untuk masing-masing tanaman dapat dikontrol dengan tepat untuk pertumbuhan maksimum. Keunggulan sistem irigasi tetes menghilangkan sebagian besar kehilangan air disebabkan penguapan, limpasan, overspray, erosi dan angin. Sehingga dengan menggunakan sistem ini kita akan banyak sekali menghemat waktu dan uang karena kita tidak perlu menyiram air berlebihan setiap waktu yang hal itu akan sangat memboroskan pasokan air dan membuat tanaman menjadi rusak. Ketimbang memanfaatkan gaya gravitasi bumi yang dalam prinsip kerjanya kurang begitu baik, dari segi waktu kurang efesien dan juga pasokan air atau nutris untuk tanaman relative tidak sama dan cenderung adanya kelebihan air pada setiap tanamannya. karena permukaan tanah yang tidak rata, sedangkan untuk menggunakan sistem drip irrigation diperlukan permukaan tanah yang rata, sehingga ketika air yang didorong oleh mesin pompa akan mudah mengalir kecepatan dengan debit yang sama.
Selain itu sistem ini dapat juga menggunakan digital timer, yaitu alat pemberian air yang dapat dikontrol secara otomatis sesuai waktu dan jumlah yang dibutuhkan oleh tanaman. Akan tetapi karna kendala keamanan maka Total Cantigi Farm hanya menggunakan sistem kalibrasi sederhana, yaitu dengan cara menyimpan gelas ukur secara acak disetiap sudut barisan tanaman sampai mencapai kebutuhan yang telah ditentukan untuk menghitung debit air yang dibutuhkan dan selanjutnya hanya menggunakan satu kontrol saja untuk biasa tahu berapa banyak debit air atau nutrisi yang diberikan pada tanaman setelah melalui proses kalibrasi tersebut.
Oleh sebab itu perlu diketahui terlebih dahulu berapa banyak kebutuhan nutrisi atau air yang diperlukan oleh tanaman satu kali aplikasi. Contoh : untuk satu periode tanam nutrisi yang dibutuhkan sebanyak 17 set nutrisi maka bila di perhitungkan : 17 x Rp.520000 (harga nutrisi) = Rp.8.840.000 (double row).
Dan bila dihitung rata-rata kebutuhan nutrisi siap aplikasi per tanaman untuk single row adalah :
5.2.4. Analisis usaha
- Biaya Total Biaya Screen + Irigasi + Operasional = Rp. 59.625.500
- Biaya Produksi Per tanaman/Periode :
Rp. 21.246.500 : 2500 pohon = Rp. 8.498,6
- Hasil Taksasi Panen sesuai target (3 Kg/pohon) :
Perkiraan Hasil Panen (Taksasi) 2500 pohon x 3 Kg = 7500 Kg
Harga jual Rata-rata per Kg Paprika : Rp.10.000/Kg
Pendapatan Kotor : 7500 Kg x Rp. 10.000 = Rp. 75.000.000
- Nilai Depresiasi Bangunan Screen dan Sistem Irigasi = Rp. 4.292.400
- Laba Tiap Periode :
Pendapatan Kotor – (Biaya Operasional Tanam + Depresiasi Screen House dan Irigasi) =
Rp. 75.000.000 – (Rp. 21.246.500 + 4.292.400) = Rp.75.000.000 –
Rp. 25.538.900 = Rp. 49.461.100
- Zakat 5 %
Rp. 49.461.100 x 5% = Rp. 2.473.055
- Bila modal dari investasi maka :
Laba Bersih : Rp. 49.461.100
Laba investor : 60% x Rp. 49.461.100 = Rp. 29.676.660
Laba Pengelola : 40% x Rp. 49.461.100 = Rp. 19.5784.440
Pendapatan investor tiap periode : Rp. 29.676.660 + Rp 4.292.400 =
Rp 33.969.060
- Persentase Laba Bagi Hasil untuk Investor : 44,03%
BEP Investasi : Rp 59.625.500 : 33.969.060 = 1,75
Dimana BEP Modal Investasi tercapai setelah 1,75 Periode
- BEP / Titik Impas Produksi Tiap Periode :
Biaya Produksi per Pohon : Rp. 8.498,6
Harga Rata-rata Paprika per Kg : Rp. 10.000
BEP 8.498,6 : 10.000 = 0,8
DAFTAR PUSTAKA
Bambang, C. 2007. Cabai paprika ” Teknik Budidaya Dan Analisis Usaha Tani “ . Cetakan ke 5. hal 9-13 dan 30-35. Kanisius. Yogyakarta.
Ndroe. 2010. Sistem irigasi tetes. http://www.sukainternet.com/artikel/40/sistem-irigasi-tetes. 25 Agustus 2010. 1:42 pm.
Sugiyanto, E. 2008. “ Syarat Ketinggian, Suhu, RH, Sinar Matahari “. www.ediskoe.blog.com. 25 Agustus. 1:47 pm.
Wikipedia. 2010. Irigasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Irigasi. 5 Agustus 2010. 1:37 pm.
Very good!
BalasHapus