Minggu, 20 November 2011

PERTANIAN ORGANIK, CARA BIJAK UNTUK PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA YANG RAMAH LINGKUNGAN

Cerpen by : nce


Di zaman sekarang penggunaan bahan-bahan kimia dalam pertanian secara terus menerus dapat menimbulkan dampak kerusakan pada media tanam (tanah), bahkan lingkungan sekitar kita. perlu adanya cara-cara untuk meminimalkan penggunbaan bahan berbahaya itu. Dengan konsep yang sederhana yaitu penggunaan bahan-bahan yang alami atau menggunakan bahan-bahan yang telah disediakan alam.
Lebih dari 60 % lahan pertanian di pulau jawa mengalalami degradasi kesuburan tanah, yang dindikasikan oleh rendahnya kandungan bahan organik(di bawah 1 %). Dampak dari rendahnya bahan organik ini menyebabkan tanah menjadi keras dan liat sehingga sulit untuk diolah, penggunaan air irigasi menjadi tidak efesien. Sehingga mempengaruhi pada produktifitas tanaman yang cenderung rendah dan semakin sulit di tingkatkan. Ini salah satu yang di alami pak Ono petani sayuran di bandung, kejadian tersebut memberikan dampak buruk bagi jaringan perekonomian di rumah tangganya, karena selain sektor pertanian adalah salah satu tiang terbesar sebagai  penyanggah, dari sekian banyak penghasil devisa bagi Negara, akan tetapi juga sebagai mata pencaharian tetap pak Ono di desa.
Suatu ketika, pak Ono sedang merenung memikirkan untuk menjual sebagian lahan pertaniannya pada orang lain yang luasnya mencapai kurang lebih 1 Hektar. Selain kondisi keuangan keluarganya menurun drastis.  Disebabkan juga karena biaya bahan baku untuk membeli kebutuhan tanipun melonjak naik seperti : pestisida dan pupuk. Sehingga sangat membebani pak Ono waktu itu. Selang beberapa hari menjelang penjualan tanah itu pak Ono sempat mengunjungi ketua RW setempat Pak Ece, dengan maksud jikalau ada orang yang membutuhkan  sebidang tanah. Akan tetapi dengan hati kecewa pak Ece tidak setuju.
Kenapa dijual pak ? pak Ece bilang sembari kaget
Habis mau bagaimana lagi pak, semua kebutuhan keluargasaya ada di lahan ini!sahut pak Ono.
Memangnya tanahnya sudah tidak layak berproduksi lagi ya pak ? Tanya pak Ece keheranan.
Tidak juga, sebenarnya saya juga menyayangkan untuk menjual sebagian tanah ini. Tapi karena kebutuhan tani yang sekarang seperti Pestisida dan pupuk selalu naik, dan Pak Ece tau sendirikan! Tanaman sayur itu rawan di serang hama penyakit.?! Keluahan pak Ono.
Oh…kenapa bapak tidak coba pakai cara bertani Organik ?!bapak bisa pakai pupuk kandang atau pestisida buatan, yah..pokoknya yang alami-alami saja!! saran pak Ece selaku RW
Kalau pak Ono kurang paham kebetulan Minggu besok saya ada rapat di kecamatan yang membahas tentang akan adanya penyuluhan petani Organik di desa. Nah...pak Ono bisa datang di penyuluhannya nanti!! Saya yakin bapak tidak akan menyesal, karna sayang sekali bila lahan pertaniannya dijualkan saya tidak bisa minta beli sayuran segar lagi dari pak Ono...hahahaha?! sanjungan pak Ece sembari mereka berdua tertawa.
Tak lama hari yang ditunggu-tunggu pak Ono datang juga, dengan semangat keingin tahuan dia bergegas sampai pertama kali dari petani-petani lain agar tidak ketinggalan informasi yang akan disampaikan. Sementara yang memberikan penyuluhan itu adalah Bapak Ir. Risa Winaya  selaku pembicara, yang didampingi pak Ece selaku ketua RW di desa itu. Pak Risa Winzya membicarakan mengenai sektor pertanian harus kembali pada konsep yang alami, penggunaan system ini bertujuan agar menghasilkan bahan pangan dengan kualitas nutrisi tinggi serta dalam jumlah yang cukup, terjadi interaksi efektif dengan sistem dan daur alamiah yang mendukung semua bentuk kehidupan, mendorong dan meningkatkan daur ulang dalam system usaha tani dengan mengaktifkan ekosistem di bumi. Dengan demikian sektor pertanian alami ini lebih dari sekedar system produksi yang memasukan atau mengeluarkan input tertentu. Namun juga merupakan satu filosofi dengan tujuan mengoptimalkan kesehatan dan produktifitas dari komunitas yang saling berketergantungan pada tanah, tanaman, hewan dan manusia.
Contohnya penggunaan pestisida yang sekarang sedang di kembangkan adalah pestisida Organik/ alami yang di sebut laseki. Terdiri dari campuran bahan-bahan alami yaitu : laja, sereh wangi, bunga tapak dara, kipait (laseki), bayam berduri dan lain sebagainya. Atau daun mimba, daun dan biji sirsak, kunyit, lengkuas, daun jeruk, serai dan tanaman obatinnya sebagai dasar pengusir hama penggangu. Selain bahan yang mudah ditemukan dimana saja juga bahan-bahan ini tidak menimbulkan efek bahaya bagi manusia dan lingkungan, di bandingkan bahan kimia yang cukup mahal dan berbahaya bagi kehidupan manusia. Sedangkan pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari bahan organik yang dihancurkan melalui proses fermentasi. Dapat diperoleh dari sampah rumah tangga nonsintetis, daun-daunan bekas panen, kotoran ternak dsb. Dikenal juga sebagai pupuk kompos yang befungsi sebagai penggumbur dan menyuburkan tanah.
Ini terlihat dari keuntungan dan perkembangan yang diperoleh dari sektor pertanian. Penurunan biaya produksi dan peningkatan kualitas produk, tingkat kerusakan pada tanaman 4,8% - 4,9% (sedang bahan kimia sebesar 10%), hemat penggunaan bahan organika satu minggu sekali (sedang kimia 2-4 hr s’kali), pengurangan serangan  OPT 21%-48%/ha, meningkatkan keuntungan dari sektor pertanian sampai 36% dengan menggunakan persitida organik sebesar  8,5%-13%./ pemakaian.
Sehingga pemberdayaan kelestarian lingkungan bisa tetap terjaga dan memberikan suatu keuntungan yang besar dengan penghematan dari setiap produktifitasnya tanpa biaya yang mahal dan berbahaya.
Setelah penyuluhan itu berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan dari para petani, dengan optimis Pak Ono tidak akan menjual lahannya itu dan akan melanjutkan menanam sayurnya itu, karena dia sadar bahwa keberadaan Pak ono dan petani-petani lain sangat berpengaruh terhadap orang lain. Selain orang membutuhkan sumber makanan dari sayuran, akan tetapi ini nilai jual tinggi untuk kemajuan ekonomi masyarakat. Kebanyakan istri-istri para petani menjual hasil dari pertaniannya.
Sesaat pak Ece RW setempat datang menghampiri dan menyapa pak ono yang tengah duduk sendiri. Bagaimana pak sudah bisa bapak pahami? Apa masih mua menjual lahan garapan bapak itu?! Tanya pak Ece sedikit menyindir.
Wah..justru saya berterima kasih sama pak Rw yang sudah membantu saya sehingga saya tahu sekarang harus apa !? saya akan mencoba bertani organik!! sahut pak Ono dengan rasa gembira
Ah..itu sudah jadi tugas saya selaku ketua RW didesa ini pak…?! Yah… kalau pak Ono masih mau jual lahan pertanian itu saya mau membelinya, tapi ngutang dulu.. hahahah…?! Candaan pak Ece sambil mereka tertawa terbahak-bahak.
Pada akhirnya pak Ono mencoba kembali menanam sayuran organik untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan orang lain, pekerjaannya cukup terbantu oleh pak Inan, karena dia peternak bebek dan ayam yang selalu memberikanya pupuk kandang dari sisa kotoran ternak dan jerami padi kepada pak Ono. Sehingga pak Ono tidak perlu mengeluarkan biaya banyak dan pak Inan akan selalu melihat kandang bebek dan ayamnya selalu bersih.